Pages

Banner 468 x 60px

 

Monday, August 10, 2020

RIVIEW JURNAL SOSIORELIGI Volume 16 Nomor 1, Edisi Maret 2018 Perempuan dalam Timbangan Al-Quran dan Sunnah : Wacana Perempuan dalam Perspektif Pendidikan Islam

0 comments

 RIVIEW JURNAL SOSIORELIGI Volume 16 Nomor 1, Edisi Maret 2018

Perempuan dalam Timbangan Al-Quran dan Sunnah : Wacana Perempuan dalam Perspektif Pendidikan Islam

Oleh : Tedi Supriyadi

Dosen Kampus Sumedang Universitas Pendidikan Indonesia

E-mail : tedisupriyadi@upi.edu

Tujuan

Tulisan ini bertujuan untuk merekontruksi paradigma tentang kedudukan perempuan yang dianggap rendah sehingga hegemoni laki-laki terhadap perempuan dapat terenyahkan dan terbangun konstruksi sosial budaya yang egaliter dalam kedudukan dan peranan yang sama sebagai mahkluk Tuhan

Metode

Tulisan ini bersifat kepustakaan murni (library research) yang menggunakan pendekatan struktur-fungsional. Penulis menggunakan metode deskriptif analitis dan metode komparatif

Hasil dan Pembahasan

Perempuan dalam Perspektif Al-Qur’an

Rakhmat (2008:339) mengtakan bahwa salah satu hal yang menakjubkan dari Al-Qur’an ialah tidak adanya penggambaran perempuan secara fisikal. Dalam Al-Qur’an, perempuan merupakan sosok yang dimanjakan dan diperlakukan dengan lemah lembut. Ketika berbicara tentang perempuan, Al-Qur’an banyak membicarakan hak-haknya sedangkan ketika berbicara mengenai laki-laki maka akan banyak membahas tentang kewajiban-kewajibannya. Selain itu, tidak terdapat pula diskriminasi antara laki-laki dan perempuan dalam hubungannya dengan pekerjaan, amal, dan tindakan. Hal yang membedakan antara keduanyaadalah amal perbuatannya

Tipologi Perempuan dalam Al-Qur’an

Dalam Al-Qur’an, terdapat empat tipe perempuan berdasarkan amalnya, diantaranya sebagai berikut :

Tipe Perempuan Shalihah

Gambaran wanita shalihah dalam Al-Qur’an adalah Siti Maryam Binti Imran yang merupakan ibu dari tokoh terkemuka di dunia dan akhirat, yaitu Isa Al-Masih. Maryam selalu menjaga kesucian dirinya, mengisi waktunya dengan pengabdian yang tulus kepada Allah. Letak kehormatan terdapat pada kesuciannya, bukan kecantikannya.

Tipe Perempuan Pejuang

Tipe perempuan pejuang yaitu mereka yang memiliki suami yang zalim lalu memberontak kepdanya, melawannya dan mempertahankan keyakinannya apapun resiko yang aka didapatkannya. Mereka lebih memilih untuk mendapatkan rumah di surga dengan cara mnegakkan kebenaran daripada istana di dunia yang dapat dinikmatinya apabila ia bekerjasama denga kezaliman. Al-Qur’an tidak menyebutkan namanya, tetapi para ahli hadist menyebutnya Aisyah binti Mazahim (istri Fir’aun). Allah memuji perempuan yang membangkan kepada suaminya yang zalim, tetapi di saat yang bersamaan Allah mengecam perempuan yang mentang suaminya yang menegakkan kebenaran seperti istri Nuh dan istri Lut.

Tipe Pendamping Tiran (Penetang)

Sosok ini adalah istri dari Abu Lahab yang bekerjasama dengan suaminya untuk menyebarkan fitnah dan melakukan berbagai tindakan zalim sehingga Al-Qur’an menyebutnya sebagai “pembawa kayu bakar”.

Tipe Perempuan Penggoda

Perempuan tipe ini digambarkan Al-Qur’an dalam kisah Nabi Yusuf yang diabadikan dalam surat Yusuf ayat 23-24. Yaitu seorang perempuan yang berusaha menggoda Nabi Yusuf untuk berbuat maksiat tetapi atas perlindungan dari Allah, Nabi Yusuf berhasil memalingkan diri dari kemungkaran tersebut.


Perempuan dalam Hadist Rasulullah

Dalam sabda-sabda Rasulullah, perempuan merupakan sosok yang dimuliakan. Rasulullah menegaskan bagi orang tua yang memiliki anak laki-laki dan perempuan hendaklah memperlakukan mereka secara sama tanpa ada diskriminasi atau lebih mengunggulkan anak laki-laki. Bahkan, dalam hadist Rasulullah juga mengatakan bahwa kehadiran anak perempuan akan menjadi tameng bagi kedua orang tuanya di neraka. Dalam hal pernikahan haruslah ada kerelaan dari kedua belah pihak sehingga tidak adanya paksaan. Selanjutnya, dalam hal perceraian perempuan juga berhak untuk menceraikan suaminya yang dalam ketentuan hukum disebut dengan khulu’ atau talak tebus. Perempuan juga memiliki hak dalam hal politik yang digambarkan ketika Umar mengeluarkan putusan hukum yang menentukan batas-batas mahar perempuan karena pada waktu itu para wanita menetapkan mahar yang terlalu tinggi, lalu diprotes oleh seorang perempuan yang memperingatkan umar tentang satu ayat dalam Al-Qur’an sehingga Umar mencabut kembali peraturan itu. Menurut Rahmat (1999:127) dengan mengutip pendapat Ibnu Asakir mengatakan bahwa setidaknya terdapat delapan puluh orang wanita yang merupakan ahli hadist.


Perempuan dalam Dunia Tasawuf

Dalam dunia tasawuf, perempuan ditempatkan sangat tinggi dan terhormat, sebab yang dilihat dalam dunia tasawuf bukan eskulin dan feminim, melainkan lebih pada aspek kondisi hati mereka dalam mencapai Tuhan. Selanjutnya, Ibnu Arabi juga mengatakan bahwa perempuan merukapan bagian dari Rasulullah SAW. karena semasa hidupnya orang yang paling dekat dan menyayanginya adalah paraperempuan hebat dimulai dari ibunya (Aminah), ibu susunya (Ummu Ayman), Khadijah, hingga Fathimah. Bahkan, semua rasul mulai dari Adam, Ibrahim, Musa, Isa, hingga Muhammad sangat dekat dekat dengan figur wanita. Dari penjelasan itulah dapat dibenarkan ungkapan yang mengatakan bahwa dibalik laki-laki yang sukses ada wanita yang hebat.


Wanita sebagai Ibu dalam Islam

Sosok perempuan yang menjadi seornag ibu berperan sangat banyak dalam perkembangan dan pembentukan diri anak. Ibu mengandung dan menyapih anaknya sampai tiga puluh bulan. Selama proses mengandung keadaan ibu sangat berpengaruh pada janin dalam kandungannya, entah itu keadaan fisik maupun psikis. Setelah lahir, peranan ibu juga masih menjadi hal yang paling penting dalam perkembangan anaknya. Seorang anak yang tumbuh diatas asuhan pembantu dengan seorang anak yang tumbuh atas asuhan ibunya sendiri akan menjadi sosok yang sangat berbeda di masa depannya karena hal itu berkaitan erat dengan proses pengasuhan dan pembentukan diri anak. Oleh karena itu, Islam menuntut wanita agar melaksanakan fungsi keibuannya dengan sebaik-baiknya. Walaupun Islam mengizinkan wanita bergerak di masyarakat sesuai dengan keperluannya, tetapi Islam memandang bahwa kehadirannya di rumah adalah paling penting dari segalanya. Ada sebuah ungkapan yang menyatakan “al um madrasatun ula” ibu itu adalah madrasah pertama dan utama. Selanjutnya, dalam syair juga dikatakan “sesuatu yang tidak punya tidak akan bisa memberi”, sehingga jika dipikirkan secara logis bahwa seseorang tidak akan melahirkan generasi yang baik jika ibunya tidak memiliki kebaikan sehingga untuk menjadi seorang ibu sangat diperlukan banyak belajar dan memberi kebaikan kepada anaknya karena ibu yang diperankan oleh seorang wanita merupakan tiangnya negara.

Read more...