Pengertian Kondensator Elektrolit
Kondensator Elektrolit biasanya disebut juga Elco ataupun Kapasitor Elektrolit adalah Kondensator yang biasanya berbentuk tabung, dengan dua kaki berpolaritas (+) positif dan (-) negatif. Kaki positif dan kaki negatif dibedakan dengan tanda satu kaki panjang berpolaritas positif (+) sedangkan kaki kedua biasanya lebih pendek atau ada tanda - - itu berarti berpolaritas negatif (-). Dalam rangkaian elektronika disimbolkan dengan huruf C.
Kondensator Elektrolit biasanya disebut juga Elco ataupun Kapasitor Elektrolit adalah Kondensator yang biasanya berbentuk tabung, dengan dua kaki berpolaritas (+) positif dan (-) negatif. Kaki positif dan kaki negatif dibedakan dengan tanda satu kaki panjang berpolaritas positif (+) sedangkan kaki kedua biasanya lebih pendek atau ada tanda - - itu berarti berpolaritas negatif (-). Dalam rangkaian elektronika disimbolkan dengan huruf C.
Fungsi Kondensator Elektrolit
Kondensator Elektrolit pada sebuah rangkaian elektronika berfungsi sebagai
1. Penyimpanan arus listrik
2.
Pem-filter
atau penyaring arus / tegangan listrik
3.
Sebagai
kopling atau penghubung
4. Penstabil tegangan listrik
Satuan Nilai Kondensator Elektrolit
Nilai kapasitansi sebuah Kondensator Elektrolit ditentukan menggunakan nilai microFarad (uF). Nilai tersebut biasanya tertera langsung pada body Elco tersebut, disamping microFarad Elco juga mempunyai nilai Voltage/voltase sendiri-sendiri. Suatu contoh 47uF/25v itu berart kondensator tersebut memiliki nilai kapasitansi sebesar 47microFarad dan maksimum voltase 25volt, hati-hatilah apabila ada sebuah rangkaian elektronika membutuhkan kondensator elektrolit sebesar 47uF/50v misalnya, karena kita gugup mungkin dalam membaca skema rangkaian elektro tersebut kita pasangkan Elco sebesar 47uF/25v itu akan berakibat Elco tersebut meledak/meletus. Lebih baik kalau sudah mencari namun tak mendapat nilai yang serupa dengan 47uF/50v, ada misal diatas 50volt itu akan lebih baik daripada kurang dari nilai voltase pada rangkaian.
Nilai kapasitansi sebuah Kondensator Elektrolit ditentukan menggunakan nilai microFarad (uF). Nilai tersebut biasanya tertera langsung pada body Elco tersebut, disamping microFarad Elco juga mempunyai nilai Voltage/voltase sendiri-sendiri. Suatu contoh 47uF/25v itu berart kondensator tersebut memiliki nilai kapasitansi sebesar 47microFarad dan maksimum voltase 25volt, hati-hatilah apabila ada sebuah rangkaian elektronika membutuhkan kondensator elektrolit sebesar 47uF/50v misalnya, karena kita gugup mungkin dalam membaca skema rangkaian elektro tersebut kita pasangkan Elco sebesar 47uF/25v itu akan berakibat Elco tersebut meledak/meletus. Lebih baik kalau sudah mencari namun tak mendapat nilai yang serupa dengan 47uF/50v, ada misal diatas 50volt itu akan lebih baik daripada kurang dari nilai voltase pada rangkaian.
Gambar Kondensator Elektrolit dan macam-macam simbolnya
Gambar simbol
Kondensator Elektrolit
|
Kerusakan Pada Kondensator Elektrolit
Kerusakan pada Kondensator Elektrolit biasanya antara lain:
Kerusakan pada Kondensator Elektrolit biasanya antara lain:
1. Elco kering / Nilai kapasitansinya berubah
2.
Meledak
3. Konslet / terhubung langsung (short)
Ketiga
macam kerusakan itu yang sering terjadi pada Kondensator Elektrolit/Elco pada
umumnya.
Fungsi Resistor sangat
berpengaruh besar di dalam rangkaian elektronika, karena sebagai penahan arus sementara
sebelum arus tersebut diproses dan disalurkan pada komponen elektronika lainnya. Selain sebagai penahan
arus sementara, resistor juga dapat berfungsi sebagai pembagi arus,
pembatas/pembagi arus, penurun tegangan dan pembagi tegangan. Resistor juga
merupakan komponen yang bersifat menghambat arus listrik yang berjenis pasif.
Jadi, wajar apabila semua rangkaian elektronika yang ada di dunia ini
selalu menggunakan komponen resistor. Resistor juga merupakan komponen yang
paling terkenal, selain karena harganya yang murah komponen ini juga paling
banyak di jual di pasaran. Jadi anda tidak perlu bingung dan pusing untuk
mencari komponen yang satu ini. Gambar Fungsi Resistor
Jenis-Jenis Resistor saat ini sudah banyak dijual di pasaran, berikut ini
kami jelaskan secara detail jenis-jenis resistor :
Resistor Biasa (Nilai Tetap).
Fungsi resistor sebagai penghambat gerak
arus listrik yang nilainya tidak dapat berubah-ubah (konstan). Bahan yang
digunakan untuk pembuatan resistor ini adalah Nikel dan Karbon.
Resistor Variable (Nilai Berubah-Ubah).
Resistor yang satu ini sangat berbeda sekali dengan resistor biasa, di mana
nilai dari resistor variable dapat berubah dengan cara memutar atau menggeser
komponen tersebut.
Demikian penjelasan singkat mengenai Fungsi Resistor,
semoga artikel kali ini dapat berguna dan bermanfaat. Baca juga artikel menarik
lainnya tentang Pengertian Resistor, Kode Warna Resistordan Jenis-Jenis Resistor.
Fungsi Dioda sangat berpengaruh penting didalam rangkaian elektronika. Karena dioda adalah komponen semikonduktor yang terdiri dari penyambung
P-N. Dioda merupakan
gabungan dari dua kata elektroda, yaitu anoda dan katoda. Sifat lain dari dioda
adalah menghantarkan arus pada tegangan maju dan menghambat arus pada aliran
tegangan balik. Selain itu, masih banyak lagifungsi dioda lainnya,
sebagai berikut :
§ Sebagai penyearah untuk komponen dioda bridge.
§ Sebagai penstabil tegangan pada komponen dioda zener.
§ Sebagai pengaman atau sekering.
§ Sebagai pemangkas atau pembuang level sinyal yang ada di atas atau bawah
tegangan tertentu pada rangkaian clipper.
§ Sebagai penambah komponen DC didalam sinyal AC pada rangkaian clamper.
§ Sebagai pengganda tegangan.
§ Sebagai indikator untuk rangkaian LED (Light Emiting Diode).
§ Dapat digunakan sebagai sensor panas pada aplikasi rangkaian power
amplifier.
§ Sebagai sensor cahaya pada komponen dioda photo.
§ Sebagai rangkaian VCO (Voltage Controlled Oscilator) pada komponen dioda
varactor.
Secara keseluruhan dioda dapat kita contohkan sebagai katup, dimana katup
tersebut akan terbuka pada saat air mengalir dari belakang menuju ke depan.
Sedangkan katup akan menutup apabila ada dorongan aliran air dari depan katub.
Simbol dioda digambarkan dengan anak panah yang diujungnya terdapat garis yang
melintang. Cara kerja dioda dapat kita lihat dari simbolnya. Karena pada
pangkal anak panah disebut sebagai anoda (P) dan pada ujung anak panah dapat
disebut sebagai katoda (N).
Gambar
Tentang Fungsi Dioda
Pada umumnya, dioda terbuat dari bahan silikon yang sudah dibekali tegangan
pemicu. Tegangan pemicu ini sangat diperlukan agar elektron bisa langsung
mengisi hole melalui area depletin layer. Didalam komponen dioda tidak akan
terjadi pemindahan elekrton hole dari P ke N maupun sebaliknya. Itu di sebabkan
hole dan elektron akan tertarik ke arah kutub yang berlawanan. Bahkan lapisan
depletion layer semakin besar dan menghalangi terjadinya arus.
Dalam Peralatan Elektronik,
sering ditemukan Potensiometer yang berfungsi sebagai pengatur Volume di
peralatan Audio / Video seperti Radio, Walkie Talkie, Tape Mobil, DVD Player
dan Amplifier. Potensiometer juga sering digunakan dalam Rangkaian Pengatur
terang gelapnya Lampu (Light Dimmer Circuit) dan Pengatur Tegangan pada Power
Supply (DC Generator). Jadi apa sebenarnya Potensiometer itu?
Potensiometer (POT) adalah salah satu jenis Resistor yang Nilai
Resistansinya dapat diatur sesuai dengan kebutuhan Rangkaian Elektronika ataupun
kebutuhan pemakainya. Potensiometer merupakan Keluarga Resistor yang tergolong
dalam Kategori Variable Resistor. Secara struktur, Potensiometer terdiri dari 3
kaki Terminal dengan sebuah shaft atau tuas yang berfungsi sebagai pengaturnya.
Gambar dibawah ini menunjukan Struktur Internal Potensiometer beserta bentuk
dan Simbolnya.
Prinsip Kerja (Cara Kerja)
Potensiometer
Sebuah Potensiometer (POT) terdiri dari sebuah elemen resistif
yang membentuk jalur (track) dengan terminal di kedua ujungnya. Sedangkan
terminal lainnya (biasanya berada di tengah) adalah Penyapu (Wiper) yang
dipergunakan untuk menentukan pergerakan pada jalur elemen resistif
(Resistive). Pergerakan Penyapu (Wiper) pada Jalur Elemen Resistif inilah yang
mengatur naik-turunnya Nilai Resistansi sebuah Potensiometer.
Elemen Resistif pada Potensiometer umumnya terbuat dari bahan
campuran Metal (logam) dan Keramik ataupun Bahan Karbon (Carbon).
Berdasarkan Track (jalur) elemen resistif-nya, Potensiometer dapat
digolongkan menjadi 2 jenis yaitu Potensiometer Linear (Linear Potentiometer)
dan Potensiometer Logaritmik (Logarithmic Potentiometer).
Fungsi-fungsi Potensiometer
1. Sebagai
pengatur Volume pada berbagai peralatan Audio/Video seperti Amplifier, Tape
Mobil, DVD Player.
2. Sebagai
Pengatur Tegangan pada Rangkaian Power Supply
3. Sebagai
Pembagi Tegangan
4. Aplikasi
Switch TRIAC
5. Digunakan
sebagai Joystick pada Tranduser
6. Sebagai
Pengendali Level Sinyal
Cara mengukur Potensiometer dengan
Multimeter
Kita dapat mengukur nilai Resistansi dari sebuah Potensiometer
dengan menggunakan Multimeter, baik Multimeter Digital maupun Multimeter
Analog. Dalam pengukuran, kita dapat mengetahui Nilai Maksimum sebuah
Potensiometer dan juga perubahan Nilai Resistansinya saat kita memutar Shaft
atau Tuas pengaturnya.
Berikut ini adalah cara untuk mengukur nilai Resistansi
Potensiometer dengan menggunakan Multimeter Digital :
Untuk mengetahui Nilai Resistansi
Maksimum Potensiometer
1. Aturlah
posisi Saklar Multimeter pada posisi Ohm (Ω)
2. Hubungkan
Probe Multimeter pada kaki Terminal yang pertama (1) dan Terminal ketiga (3).
3. Perhatikan
nilai Resistansi Potensiometer pada Display Multimeter, nilai yang tampil
adalah nilai maksimum dari Potensiometer yang sedang kita ukur ini.
Perlu diketahui, Nilai Maksimum tersebut merupakan Nilai Nominal
Potensiometer dan akan hampir sama dengan nilai yang tertera pada badan
Potensiometer itu sendiri. Nilai Resistansi Potensiometer pada Terminal 1
dan Terminal 3 akan selalu konstan. Artinya, Pemutaran Shaft
(Tuas) pengatur tidak akan berpengaruh terhadap nilai pengukurannya.
Untuk mengukur Perubahan Nilai
Resistansi Potensiometer
1. Aturlah
posisi Saklar Multimeter pada posisi Ohm (Ω)
2. Hubungkan
Probe Multimeter pada kaki Terminal yang pertama (1) dan Terminal kedua (2).
3. Putarlah
Shaft atau Tuas pada Potensiometer searah jarum jam,
4. Perhatikan
Nilai Resistansi pada Display Multimeter, Nilai Resistansi and naik seiring
dengan pergerakan Shaft (Tuas) Potensiometer tersebut. Sebaliknya, Jika
Shaft (Tuas) Potensiometer diputar berlawanan arah jarum jam, Nilai Resistansi
akan menurun seiring dengan pergerakan Shaft (Tuas) Potensiometer tersebut.
5. Pindahkan
Probe Multimeter dari kaki Terminal pertama (1) ke Terminal ketiga (3). Jadi,
sekarang kaki Terminal Potensiometer yang diukur adalah Terminal 2 dan Terminal
3.
6. Putarlah
Shaft (Tuas) Potensiometer searah jarum jam,
7. Perhatikan
Nilai Resistansi Potensiometer pada Display Multimeter, Nilai Resistansi akan
menurun seiring dengan pergerakan Shaft (Tuas) Potensiometer tersebut.
Sebaliknya, Jika Shaft (tuas) Potensiometer diputar berlawanan arah jarum
jam, Nilai Resistansi akan naik seiring dengan pergerakan Shaft (Tuas)
Potensiometer tersebut.
Transformator dalam dunia elektronika memegang
peranan yang sangat penting. Secara garis besar fungsi transformator adalah
untuk menyalurkan energi listrik ke tegangan rendah maupun ke tegangan tinggi,
penyaluran ini berlangsung dalam frekuensi yang sama. Fungsi ini juga dikenal
pula sebagai istilah step up dan step down. Fungsi transformator juga memegang
sebuah peranan penting dalam dunia elektronika, sama halnya seperti dengan
fungsi kapasitor, resistor, transistor, dan dioda. Fungsi berikutnya dalam transformator yang tidak kalah penting adalah
sebagai sistem komunikasi dimana transformator atau trafo digunakan sebagai
frekuensi radio dan video. Lalu bagaimanakah fungsi dari transformator dalam
kehidupan sehari-sehari kita?
Fungsi
Transformator
Untuk fungsi yang pertama yaitu menaikkan tegangan arus listrik,
transformator banyak memegang peranan dalam hal ini. Tidakah kalian menyadari
bahwa lemari es, televisi bahkan komputer yang kalian gunakan setiap hari
memanfaatkan fungsi transformator yang sebagai penaik tegangan
arus listrik. Transformator step up ini memiliki lilitar sekunder yang lebih banyak dibandingkan
dengan lilitan primer sehingga fungsinya sebagai penaik tegangan arus listrik
sangatlah jelas. Oleh karena itu, janganlah heran ketika anda menyalakan lemari
es, televisi ataupun komputer listrik pada rumah anda untuk sesaat akan terasa
seperti mengalami black out sepersekian detik. Hal ini adalah efek dari
transformator step up yang sedang bekerja.
Lalu, fungsi yang kedua dari transformator adalah menurunkan tegangan arus
listrik. Jumlah lilitannya berbalik dengan transformator step up, jika step up
lilitan yang terbanyak ada pada lilitan sekunder maka transformator step down
ini lilitan yang terbanyak adalah lilitan primernya dibanding dengan lilitan
sekunder. Contoh dari penggunaan transformator step down bisa dilihat ketika
kita mencharge handphone kita ataupun ketika kita sedang mencharge baterai
kamera kita. Memang ini sudah sesuai dengan fungsinya yang sebagai penurun
tegangan arus bolak balik (AC). Baik transformator step up maupun step down
secara tidak langsung memainkan peran yang sangat penting. Mungkin beberapa
diantara kita masih belum menyadari hal ini. Semoga dengan sajian ini bisa
membantu anda mengenali fungsi transformator.
Baca juga artikel menarik lainnya, seperti Jenis-Jenis
Transistor, Fungsi
Hardisk Dalam Komputer, Pengertian
Power Supply dan Jenis-Jenis
RAM.







0 comments:
Post a Comment